Home » Doa Keluar Kamar Mandi yang Shahih

Doa Keluar Kamar Mandi yang Shahih

  • by
doa keluar kamar mandi

Saat kita keluar dari kamar mandi, maka kaki kanan didahulukan dan kita dainjurkan berdoa dengan doa keluar kamar mandi yang shahih yaitu kita membaca “Ghufronaka” yang artinya Ya Allah aku memohon ampun padaMu. Dalilnya adalah hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا خَرَجَ مِنَ الْغَائِطِ قَالَ غُفْرَانَكَ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa setelah beliau keluar kamar mandi beliau ucapkan “ghufronaka” (Ya Allah, aku memohon ampun pada-Mu).”

HR. Abu Daud no. 30, At Tirmidzi no. 7, Ibnu Majah no. 300, Ad Darimi no. 680. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

doa keluar kamar mandi

READ  Langkah-langkah Dalam Proses Pemecahan Masalah di dalam Rumah

Mengapa kita memohon ampun saat doa keluar kamar mandi. Ini karena

ketika kita masuk kamar mandi kita dipermudah untuk mengeluarkan kotoran badan, maka ia pun ingat akan dosa-dosanya. Oleh karenanya, ia pun berdoa pada Allah agar dihapuskan dosa-dosanya sebagaimana Allah mempermudah kotoran-kotoran badan tersebut keluar

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam kitabnya Majmu’ Fatawa wa Rosail Al ‘Utsaimin, 11/107, Darul Wathon-Daruts Tsaroya, cetakan terakhir, 1413 H

“Hikmah dari doa ini –wallahu a’lam- Allah telah memberikan kenikmatan berupa mudahnya bagi hamba makan dan minum. Kemudian Allah memberikan kenikmatan mudahnya kotoran keluar. Seorang hamba sering meremehkan bersyukur, maka disyariatkan baginya agar beristigfar meminta ampun ketika hilangnya kotoran setelah mendapat nikmat berupa makanan dan minuman. Allah Subhanu wa ta’ala mencintai hambanya yang mensyukuri nikmatnya”

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah dalam Majmu’ Fatawa Syaikh Bin Baz, sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2274

Pertama: meminta Ampun kepada Allah, karena keadaan yang menuntut tidak boleh berdzikir (karena di kamar mandi tidak boleh berdzikir), karena (seharusnya) ia berdizkir kepada Allah di semua kondisi kecuali ketika ada hajat (yang menghalangi berdizkir). 

Kedua: kemampuan manusia terbatas untuk mensyukuri nikmat Allah berupa kemudahan makanan dan minuman serta tertib waktu makan yang sesuai dengan mashlahat badan”

Syaikh Al-Mubarakfuri dalam kitabnya Tuhfatul Ahwadzi 1/42,  Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah, Beirut, Syamilah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *